Mengenal Afri Marzeli, Agen yang Sering Suplai Pemain Asing ke Persija

Sepak bola sudah menjadi industri. Permainan si kulit bundar itu banyak melibatkan banyak pihak. Termasuk agen pemain. Salah seorang agen yang sedang melejit di Indonesia adalah Afri Marzeli.

RIZKY AHMAD FAUZI

Mengenal Afri Marzeli, Agen yang Sering Suplai Pemain Asing ke PersijaAfri Marzeli sempat mencoba berkarir sebagai pesepak bola (Rizky Ahmad Fauzi/Jawa Pos)

JawaPos.com – Raihan trofi Liga 1 musim 2018 yang diraih Persija Jakarta masih terbayang di benak Afri Marzeli. Perasaannya begitu bangga melihat tim berjuluk Macan Kemayoran itu meraih titel supremasi tertinggi di persepakbolaan tanah air.

Wajar jika pria yang akrab disapa Marsel itu senang. Sebab, musim lalu, dari empat pemain asing yang dimiliki Persija, dua pemain di antaranya adalah kliennya. Kedua pemain tersebut adalah Jaimerson Xavier dan Renan Silva.

Ya, selain menjadi agen kedua pemain itu, Marsel juga ditunjuk sebagai orang yang bertanggung jawab soal pemain asing di Persija. Mulai dari tempat inap, kedatangan istri pemain, hingga visa. “Lalu ada embel-embelnya kalau anaknya sekolah minta bantu,” ujarnya kepada Jawa Pos.

Mengenai posisinya itu, dia mengaku tidak begitu kesulitan. Sebab, pemain asing lain yang bukan kliennya memiliki kepribadian yang baik. Marsel begitu bangga lantaran pekerjaannya sebagai agen begitu mengangkat derajatnya.

“Dari yang biasa saja sekarang bisa seperti sekarang. Semua yang dulu tidak kita punya sekarang punya,” ucapnya. Sebab, dari satu pemain, dia mendapat sekira 10 persen dari nilai kontrak dengan klub. “Jadi secara pendapatan bagus ya,” akunya.

Sebelumnya, kegagalan demi kegagalan terus menghinggapi dirinya. Karirnya sebagai pemain sepak bola mentok di kompetisi junior. Sebelumnya, Marsel menjadi bagian tim Persija U-18 pada 2000 untuk tampil di Piala Soeratin. Waktu itu usianya masih 16 tahun.

Pemain yang berposisi gelandang itu akhirnya berhenti mengubur mimpinya untuk menjadi pemain profesional. Dia mengaku tidak sukses sebagai pemain. Tak maksimalnya saat menjadi pemain diungkapkannya lantaran tidak disiplin. Misalnya, tidak suka dengan latihan fisik yang diberikan pelatih pada pagi hari.

Namun, meski tidak lagi sebagai pemain, kesenangannya dengan dunia sepak bola tidaklah pernah luntur. Hidupnya seperti tidak bisa jauh dari sepak bola. “Ya, kerja di sepak bola nyaman buat saya,” ungkapnya.

Marsel menuturkan, cerita awalnya menjadi agen itu dimulai ikut dengan Eddy Syahputra, yang dikenal sebagai agensi pemain senior. Kebersamaannya dengan Eddy dimulai sekitar 2011. Di situ, dia membantu Eddy untuk bagian pengurusan pemain dan kitas. Setelah itu, dua tahun kemudian, dia ikut dengan Himawan Basya Giawarman.

Belajar dari dua agen kawakan itu membuatnya mendapat pengetahuan tentang mendatangkan pemain berkualitas. Pemain bagus disebutnya bisa terlihat dari kompetisi yang diikuti. “Misalnya si pemain dari Brasil, minimal dia main di Serie B. Kalau ada di Serie-A lebih bagus. Itu paling pertama,” paparnya.

Setelah melihat kasta bermain si pemain, pihaknya melihat handicap. Artinya, seberapa sering pemain ditampilkan dalam satu musim kompetisi. Jika striker, berapa jumlah gol yang dicetaknya.

Setelah itu, barulah usia. Untuk pemain asing potensial, Marsel menyebut pemain berusia 28-30 berada di titik emas. Sebab, selain sudah matang dalam bermain, di usia tersebut fisik pemain masih cukup prima untuk menjalani ketatnya kompetisi dalam satu musim. “Tapi kalau usianya di atas 31 tahun, yang harus diperhatikan adalah kesehatannya. Kalau ada cedera harus sudah sembuh agar saat medical check up lolos,” ucapnya.

Marsel mengaku pernah memiliki pengalaman dalam kasus tersebut. Dia membawa pemain bernama Gustavo Lopes dari Arema FC ke klub asal Malaysia, Terengganu FA, pada 2014. “Dua tahun di sana, dia (Gustavo, Red) cedera. Saya tidak pernah lihat dia,” ucapnya.

Lalu, setelah itu, dia membawa Gustavo kembali ke Arema FC pada 2018. Saat itu, pemain asal Argentina itu ikut seleksi Piala Gubernur Kalimantan Timur. Namun, Gustavo tidak lolos dan kemudian ke PS Tira. Pada klub yang saat ini bernama Tira Persikabo itu, Gustavo tidak bisa berkembang karena cedera yang dialaminya memengaruhi penampilannya.

Karir Marsel sebagai agen pemain terus melesat pada tiga tahun terakhir. Pada 2017, dia mendatangkan dua pemain untuk Persija. Yaitu Willian Pacheco dan Rafael dos Santos. Hanya saja, cuma nama pertama yang lolos. “Rafael sempat main di Trofeo Persija tapi dicoret. Yang dapat cuma Willian,” tuturnya.

Musim ini, Marsel memiliki 10 pemain yang bermain di Liga 1. Mulai tiga pemain asing Arema FC yakni Artur Cunha da Rocha, Pavel Smolyachenko, dan Robert Lima “Gladiator” Guimaraes. Dua pemain di Persija, Steven Paulle dan Silvio Escobar, dua pemain di Madura United yakni Jaimerson Xavier dan Alberto “Beto” Goncalves, dan masing-masing satu pemain dari Borneo FC Renan Silva, Barito Putera Lucas Silva, dan Bhayangkara FC Anderson Salles.

Meski terbilang banyak, Marsel menyebut tidak terkendala soal komunikasi dengan setiap pemain di bawah naungannya. Sebab, jadi agen harus menaungi dan memberikan yang terbaik bagi kliennya. Perhatian juga disebutbya penting untuk diberikan ke pemain.

Apalagi, jika contohnya seperti Rafael yang datang masih berstatus seleksi harus dikasih motivasi. “Willian Pacheco waktu pertama kali datang kan satu bulan dia seleksi. Jadi harus perhatikan makannya, kalau dia baru datang. Ya kita urusin mereka intinya,” terangnya.

Dia mengaku dalam dunia agen itu terdapat dua. Yaitu, pemain yang sudah ada di Indonesia dan yang belum. Nah, yang belum ada di tanah air itu harus ditempuh dengan komunikasi yang baik. Utamanya untuk meyakinkan pemain tersebut untuk datang.

Marsel menyebut CEO Persija Ferry Paulus menjadi salah seorang yang berjasa. Sebab, FP – sapaan akrab Ferry Paulus, membantunya dalam beberapa tahun terakhir. “Pak FP itu yang ambil Willian,” ujarnya.

Setelah itu, dia dipercaya sama FP untuk urus visa pemain asing Persija. “Dia (FP, Red) percaya sama saya karena saya bisa bikin visa itu cepat. Satu hari,” jelasnya.

Selain itu, dari FP pula dia dikenali oleh manajer Arema FC Rudy Widodo. Kemudian, Rudi melihat kinerjanya hingga akhirnya sampai sekarang bisa terus bekerja sama dalam mencarikan pemain asing.

Menurutnya, menjadi agen itu tidak perlu memiliki banyak pemain. Yang terpenting, seluruh pemain di bawah naungan itu bisa diurus dengan baik. “Buat pemain senang. Jadi agen itu harus siap membantu dan tidak boleh dibeda-bedakan karena dia manusia,” ucapnya.

Sejauh menjadi agen, dia menyebutkan, jika awal kedatangan, pemain tidak melihat klub. Di tahun berselang baru pemain kemudian memilih klub. Bisa bertahan ataupun pindah. Biasanya, sambungnya, pemain paling suka jika dihubungkan kepada Persija dan Arema. Sebab, basis suporter yang besar dan terbilang kota besar menjadi daya tarik tersendiri bagi pemain.

Oleh sebab itu, dia mengaku paling sering mengajukan pemain kedua klub tersebut.
Pria yang gemar memancing itu mengaku memiliki tim untuk mengatur pemain. Seperti berkomunikasi dengan agen di pelbagai negara. “Begitu kita deal, 10 persennya itu dibagi dua. Karena pemain itu rata-rata di negaranya punya agen juga,” bebernya.

Marsel mengaku dikenal dengan klub sebagai pengurus visa. Sebab, dia menyebut cukup baik dalam mengurus itu. “Yang namanya kitas, daftar pemain, saya sangat dipercaya sama klub-klub,” ucapnya.

Kedua, sambungnya, dia menjaga hubungan dengan para pemain. Hal itu dikatakannya sangat penting dalam profesinya sebagai agen. Komunikasi yang baik dengan pemain itu seolah membuka relasi ke pemain lainnya. “Pernah saya bicara dengan satu pemain dan menawarkan tim kepadanya dan akhirnya bisa jalan,” ujarnya.

Dia menegaskan, ketika merekomendasikan pemain ke klub tidak mau yang sembarangan. Sebab, jika pemain jauh dari ekspektasi, tentunya menjadi kerugian baginya. Mengenai gol ke depan, pria berusia 35 tahun pada 19 Maret itu ingin melihat Arema FC menajdi juara. Sebab, musim ini, pemainnya banyak ada di Arema FC.

“Jadi cita-cita saya itu (melihat Arema FC juara). Jadi Persija sudah juara, Arema FC penginnya tahun ini,” harapnya.

Editor           : Edy Pramana
Reporter      : Rizky Ahmad Fauzi