Eks Manajer Persibara Puji Gerak Cepat Satgas Antimafia Bola

JawaPos.com – Satgas Antimafia Bola semakin serius dalam memberantas kasus mafia bola di Indonesia. Total sudah ada empat kantor PSSI yang digeledah oleh anggota Satgas. Terkait hal itu mantan manajer Persibara Banjarnegara Lasmi Indaryani selaku salah satu pelapor sangat mengapresiasi kinerja Satgas.

Untuk mencari dokumen-dokumen terkait kasus match fixing Satgas telah menggeledah beberapa kantor PSSI. Yakni kantor PSSI lama di jalan Kemang Timur V, Kemang, Jakarta Selatan, dan kantor PSSI di FX Office Tower 14 (30/1). Selain itu juga kantor PT Liga Indonesia di Rasuna Officer Park DO07 dan kantor PT Gelora Trisula Semesta (GTS), Menara Rajawali, lantai 11 (31/1).

Terkait langkah nyata Satgas tersebut Lasmi Indaryani mengaku sangat mengapresiasi langkah Satgas yang ternyata begitu sigap dan maksimal dalam upaya membongkar mafia bola.

“Kami sebenarnya dalam posisi kaget dan kagum ternyata Satgas benar-benar menunjukkan taringnya,” ungkap dia.

Dia sebenarnya tidak berharap begitu tinggi karena sadar akan sulitnya membongkar mafia bola. “Kami tahu kendala sulitnya menemukan bukti hukum dalam sistem yang selalu menitikberatkan adanya alat bukti,” imbuh Lasmi.

“Untuk menemukan bukti tersebut jelas sulit karena mafia bola pasti rapi dalam melakukan kejahatan,” jelas Lasmi. Sebagaimana diatur di pasal 184 KUHAP kususnya saksi dan dokumen. Namun setelah penggeledahan dia sangat salut dengan kerja Satgas. “Satgas mampu mempetakan dan mengurai sengkarut mafia bola,” ujarnya.

“Selanjutnya kami akan selalu bersama Satgas dalam upaya bongkar mafia bola,” ujarnya. Menurut dia, Satgas jelas-jelas hebat dan sudah melampaui harapan masyarakat untuk membongkar semua kejahatan mafia bola untuk selanjutnya dia berharap sepakbola Indonesia akan maju berprestasi.

Sementara itu, kuasa hukum Vigit Waluyo, Muhammad Sholeh mengaku sangat setuju dengan disegelnya kantor LIB, sebab menurut dia kantor itu juga dipakai oleh Komdis PSSI. Komdis sendiri dalam menyelesaikan soal mafia tidak serius, terbukti anggotanya terlibat dan sudah ditahan oleh Satgas Antimafia Bola.

“Komdis menghukum dengan melanggar kode disiplin PSSI. Menghukum orang tanpa pernah memanggil yang akan dihukum (kasus Vigit),” ungkap Sholeh. “Komdis memanggil PSS Sleman dan Kalteng Putra hanya karena membaca pemberitaan media,” imbuh dia.

Selain itu, terkait kasus Vigit. Seharusnya Komdis menemui Vigit sendiri. “Lembaga peradilan kok acuannya pemberitaan media. Ingat pemberitaan media bisa salah,” ungkap Sholeh. Seperti kasus somasi Persija ke Vigit. Jadi komdis PSSI tidak bisa diharapkan bisa ikut memberantas mafia bola jika cara menyidangkan dan menghukum orang dan klub dengan cara melanggar hukum juga.

Editor           : Edy Pramana
Reporter      : (ana)