Dianggap Dirugikan, Persebaya Salah Apa PSSI?

JawaPos.com – Persebaya Surabaya didorong untuk tidak berdiam diri menerima keputusan PSSI di Piala Indonesia 2018. Manajemen Persebaya didesak untuk mengajukan protes kepada federasi yang tengah dipimpin Joko Driyono tersebut.

Hal ini terkait dengan laga di babak 32 besar Piala Indonesia melawan Persinga Ngawi. Pertandingan ini mengalami tiga kali penundaan. Lucunya, PSSI tidak memberikan sanksi kepada Persinga sebagai tuan rumah leg pertama yang sudah gagal menggelar tiga laga secara beruntun.

Terbaru, PSSI menetapkan pertandingan ini digelar pada 9 Februari dan 12 Februari. Anehnya, kedua laga ini akan digelar di Stadion Jala Krida Mandala AAL Bumimoro, Surabaya, tanpa penonton.

Menurut pemerhati sekaligus penulis buku tentang Persebaya, Oryza A Wirawan, jika benar kedua pertandingan itu digelar di tempat netral dan tanpa penonton, maka Persebaya lah yang sangat dirugikan oleh keputusan PSSI.

“PSSI harus menjelaskan apa alasannya tanpa penonton. Persebaya tidak terkena sanksi. Persebaya juga harus memprotes. Persebaya ini dirugikan berkalikali lipat,” tegas Bonek yang berdomisili di Rungkut, Surabaya itu.

Secara finansial, Persebaya juga merugi karena kehilangan kesempatan meraih keuntungan dari hasil penjualan tiket. Selain itu, tindakan ini berpotensi membuat citra PSSI semakin buruk di mata suporter.

“Persebaya wajib meminta penjelasan mengapa harus main tanpa penonton di leg kedua. Logikanya, seharusnya Persinga sudah kalah WO,” ujar Oryza.

Ia menambahkan, apa yang menimpa Persebaya sama persis dengan pertandingan melawan Persik Kediri pada penghujung kompetisi 2010 lalu. Laga tersebut kemudian dikenal dengan sebutan sepak bola dagelan.

“Regulasi seharusnya dijalankan. Kalau tidak bisa menggelar pertandingan, ya seharusnya Persinga kalah WO,” tutup Oryza.

Editor           : Bagusthira Evan Pratama
Reporter      : Muhammad Syafaruddin