Jalan di Desa Musi Banyuasin Pakai Aspal Campur Karet

Banyuasin – Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan telah resmi menggunakan aspal berbahan karet dalam pembangunan jalan. Kali ini aspal berbahan campuran karet mulai diterapkan sepanjang 450 meter untuk di pedesaan.

Bupati Muba, Dodi Reza Alex menyebut pembangunan jalan menggunakan aspal berbahan karet ini sudah lama direncanakan. Rencana ini tak lain untuk meningkatkan harga karet petani yang saat ini tengah anjlok.

“Untuk tahap pertama kita bangun jalan aspal berbahan campuran karet di Desa Mulya Rejo Kecamatan Sungai Lilin. Kali ini panjang jalan 465 meter,” terang Dodi Reza setelah meninjau pengerjaan Aspal berbahan campuran Serbuk Karet Alam Teraktivasi (SKAT), Jumat (12/10/2018).



Dengan pembangunan jalan sepanjang 450 meter, Dodi mengklaim sekitar 8,49 ton karet milik petani di Musi Banyuasin telah diserap. Ke depan diharapkan bisa lebih banyak lagi pembangunan aspal di Muba yang berbahan karet.

“Pembangunan jalan aspal pakai bahan campuran karet ini sangat efektif, saya yakin ke depan bisa diimplementasikan. Ini sebagai bukti bahwa pembangunan jalan aspal berbahan campuran karet itu ada dan nanti bisa mendongkrak harga karet di Muba,” sambung Dodi.

Dalam penerapannya, bahan baku aspal di Muba menggunakan komposisi SKAT dengan campuran 25 persen bahan baku karet. Sisanya menggunakan campuran ban bekas dan aspal murni, sehingga ini dapat meningkatkan ketahanan aspal.

Sementata Plt Kepala Dinas PUPR Musi Banyuasin Herman Mayori mengatakan pembangunan jalan aspal dari bahan campuran karet di Muba menggunakan dana APBD Tahun Anggaran 2018 dan menelan anggaran sebesar 1,8 miliar.

“Sejauh ini kalau dari hasil penelitian ya, untuk faktor ketahanan dan metodenya jalan aspal berbahan campuran karet ini lebih tahan dan kuat. Untuk itulah tahun ini kita terapkan pertama kali di desa ini,” kata Herman.

Herman menyebut ada tiga teknik yang dapat digunakan bagi pembangunan jalan aspal dengan berbahan campuran karet. Mulai dari teknologi aspal karet berbasis latek, teknologi berbasis serbuk karet (SKAT) dan tehnologi berbasis masterbatch atau komponen padat.

“Sekarang kami pakai yang SKAT. Selain yang pertama, tekstur tanah terutama di Muba ini juga harus disesuaikan, dimana pengerasan aspal terhadap temperatur dan deformasi, lebih lentur dan fleksibel, kedap air, lebih tahan lama dan ini dapat mengurangi kebisingan jalan raya,” kata Herman. (zlf/zlf)