Soal Vaksin MR, UAS: Pilih Babi, Tak Boleh Pilih Mati

JawaPos.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah memastikan jika penggunaan Vaksin Measless Rubella dibolehkan. Sekalipun memang ada unsur babi dalam kandungan vaksinnya.

Dalihnya lantaran situasi darurat. Karena sampai saat ini belum ditemukan vaksin sejenis guna mencegah terjadinya kecacatan karena tertular virus rubella.

Para ulama pun meminta masyarakat tak ragu menggunakan Vaksin MR demi keselamatan anak. Salah satunya Ustad Abdul Somad.

Ngaji Mantap (Video UAS)

Dalam salah ceramahnya yang beredar di Youtube via akun ‘Ngaji Mantap’, UAS-sapaannya- memberikan pandangannya seputar penggunaan vaksin MR.

UAS berpandangan bahwa vaksin MR ini dibolehkan dengan syarat adanya kekhawatiran dari orang tua terhadap sang buah hati akan lahir cacat, atau berujung kematian. Pendapat itu diutarakannya berdasarkan perkataan Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) MUI, KH Tengku Zulkarnain.

Lebih lanjut dai lulusan Al Azhar Kairo Mesir itu menilai jika memang situasi hanya dihadapkan pada 2 pilihan yakni mengkonsumsi babi atau mati, UAS berpendapat lebih baik seseorang memilih babi.

“Di situasi seperti ini hukum darurat berlaku, sehingga walaupun babi diharamkan namun tetap boleh dikonsumsi demi menghindari kematian,” ujar UAS.

Meski demikian jika ada masyarakat yang enggan menggunakan vaksin MR ini pun tidak bisa disalahkan. Oleh karena itu UAS menyarankan agar setiap orang tua melakukan konsultasi dengan dokter. Karena tingkat kesehatan setiap individu berbeda-beda.

Berikut kutipan ceramah UAS soal vaksin MR:

“Bagaimana hukum suntik rubella yang belum sertifikasi halal?,” kata UAS membacakan pertanyaan jamaah dalam kertas kecil.

“Sampai sekarang MUI tidak mengeluarkan sertifikasi halal, sampai hari ini. Itu yang disampaikan Wasekjen MUI KH Doktor Teuku Zulkarnain. Oleh sebab itu kalau memasang, memakai itu karena keadaannya darurat, karena kalau kata dia kalau nggak disuntik ini anaknya bisa cacat, mati. Kita kalau dipilih antara dua, mati atau makan babi, pilih mana? Babi, tak boleh pilih mati. Masuk dalam hutan pilihannya cuma dua, mati atau babi, aku pilih mati ajalah, nggak boleh. Mesti makan babi, ambil kecap kau colek-colek itu babi. Jadi kalau bapak ibu takut anaknya sakit, cacat dipakainya hukum darurat itu. Ustad Somad (bagaimana suntik enggak)? Saya tanya emak saya, saya orang kampung, aku dari kecil ada disuntik cacar suntik ini suntik itu? Enggak kau dari kecil enggak pernah disuntik. Asal datang dokter puskemas kularikan kau ke hutan. Sampai sekarang hidup enggak sakit. Pernah ada travel ngajak saya umrah, Ustad kapan ada waktu kosong untuk suntik? Kalau kalian mau berangkat ya berangkat tapi aku terus terang nggak bisa suntik. Kalau nggak dapat visa Ustad? Saya enggak berangkat. Sampai hari H saya enggak suntik entah bagaimana mereka dapat visa. Saya berangkat, kalau tak suntik nggak mati juga, tapi ini tak bisa jadi hukum saya tak mati yang mendoakak saya banyak. Semuanya berdoa mana mempan kuman-kuman virus-virus. Jadi kalau takut khawatir bapak ibu tanya ke dokter, anakku kalau tak suntik rubella gimana bu dokter? Oh jangan nanti akan begini begini begini, suntiklah, hukumnya bukan karena label halal MUI tapi karena darurat takut mati,” jawab UAS.

(sat/JPC)